Communication
Between Superiors and Subordinates on Work Motivation at Bank BRI Cimahi
Komunikasi Antar Atasan dan Bawahan Terhadap Motivasi
Kerja di Bank BRI Cimahi
Nabilla Nur Fawwaztri
nabilla.nur.abs21@polban.ac.id
Administrasi
Bisnis/Administrasi Niaga
Politeknik
Negeri Bandung
Abstract
The pattern of communication carried out by superiors
can create good interactions in the bank's office environment. So that there
are goals and benefits of communication itself. With good communication, a
company can run smoothly and successfully. Conversely, if there is no
communication it can hinder the achievement of the vision and mission of the
organization. Types of Work Motivation According to (Study et al., 2022) there
are two types of work motivation. Another approach is communication as an
organization, which means that the organization is the result of the
communication of those within it. One of the main elements in achieving its
goals is human because it is humans who can determine a goal, and humans who
formulate tactics in the company. Information about the work results of
employees that have been conveyed by superiors, either in the form of criticism
or praise. From this it can be concluded that a boss can be an active listener
and able to analyze any information obtained. The pattern of superior
communication in building bank employee work motivation, in the author's
opinion, is very good because superior communication is able to build a sense
of employee morale. But employees who lack or do not have a motivation in doing
all the work given. However, if in the work being carried out there are many difficulties
felt by employees in obtaining information from above. Communication within
organizations focuses on building relationships and interacting with internal
and external organizational groups or the public interested in the
organization. Downward Communication The flow of messages from superiors or
leaders in the organization to its employees. In this communication,
supervisors can see whether subordinates understand what is meant or
recommended. This is a form of correction from superiors, both in the accuracy
of the words used and the sentence structure of incoming letters. Work
productivity A thing that is done by employees can increase the effectiveness
and efficiency of work of employees. The existence of this positive motivation
can encourage employees to improve their performance.
Keywords:
Communication, Motivation, Superiors, Subordinates
Abstrak
Pola komunikasi
yang dilakukan atasan dapat membuat interaksi yang baik dilingkungan kantor
bank tersebut. Sehingga adanya tujuan dan manfaat dari komunikasi itu
sendiri. Dengan adanya komunikasi yang bagus, suatu perusahaan bisa berjalan
dengan lancar dan sukses. Sebaliknya, jika tidak adanya komunikasi dapat
menghambat tercapainya visi dan misi organisasi tersebut. Jenis-jenis
Motivasi Kerja Menurut (Studi et al., 2022) terdapat dua jenis dalam motivasi
kerja. Pendekatan lainnya adalah komunikasi sebagai organisasi yang artinya,
organisasi adalah hasil dari komunikasi mereka yang ada di dalamnya. Salah
satu unsur utama tercapainya tujuan adalah manusia karena, manuasia yang dapat
menentukan suatu tujuan, dan manusia yang merumuskan taktik dalam
perusahaan. Informasi mengenai hasil kerja pegawai yang telah disampaikan
atasan, baik dalam bentuk kritikan ataupun pujian. Dari hal tersebut dapat
diambil bahwa seorang atasan dapat menjadi pendengar yang aktif dan mampu
menganalisis setiap informasi yang didapat. Pola komunikasi atasan dalam
membangun motivasi kerja pegawai bank, dalam penilaian penulis sudah sangat bak
karena komunikasi atasan mampu membangun rasa semangat kerja
pegawai. Tetapi karyawan yang kurang atau yang tidak memiliki suatu
motivasi dalam melakukan seluruh pekerjaan yang diberikan. Namun, apabila
dalam pekerjaan yang sedang dilakukan banyak kesulitan yang dirasakan pada para
pegawai dalam mendapatkan informasi dari atasa. Komunikasi dalam organisasi
berfokus dalam membangun hubungan dan berinteraksi dengan kelompok organisasi
internal dan eksternal atau publik tertarik pada organisasi
tersebut. Komunikasi Kebawah Arus pesan dari atasan atau pimpinan dalam
organisasi tersebut kepada para karyawannya. Dalam komunikasi ini
memberikan supervisor dapat melihat apakah bawahan mengerti apa yang dimaksud
atau diperintahkan. Hal tersebut adalah bentuk koreksi dari atasan, baik
dalam ketepatan kata-kara yang digunakan maupun susunan kalimat terhadap
surat-surat yang masuk. Produktifitas kerja Suatu hal yang dilakukan
pegawai dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja para
pegawai. Adanya motivasi positif ini dapat memberikan semangat bagi pegawai
dalam meningkatkan kinerjanya.
Kata kunci: Komunikasi, Motivasi, Atasan, Bawahan
1. Latar
Belakang/Pendahuluan
Dunia perkantoran sangatlah kompetitif hal ini menunjukan jika
perusahaan memiliki ukuran daya saing yang tinggi. Untuk menyelesaikan perkara
tersebut, dapat menggunakan salah satu sumber daya manusia atau kinerja
karyawannya yang dimiliki oleh perusahaan yang bersangkutan. SDM atau Sumber
daya manusia adalah suatu harta yang paling bernilai bagi setiap perusahaan,
merupakan pelopor dari aktivitas perusahaan dan membantu dalam tercapainya
tujuan perusahaan.
Dari banyak nya macam bagian penting dari suatu perusahaan atau
kantor sumber daya manusialah salah satu bagian terpenting. Salah satu unsur
utama tercapainya tujuan adalah manusia karena, manusia yang dapat menentukan
suatu tujuan, dan manusia yang merumuskan taktik dalam perusahaan.
Visi dan misi suatu perusahaan akan lebih mudah untuk tercapai, jika
karyawannya memiliki prestasi yang bagus. Untuk memenuhi prestasi ini
dipengaruhi melalui disiplin dalam bekerja dan dorongan dalam bekerja yang baik
melalui karyawannya
Kinerja pegawai merupakan pencapaian kualitas dan kuantitas yang
telah dicapai karyawan dalam pengembangan tanggung jawab setiap organisasi,
yang dapat dilihat dari prestasi yang telah dicapai oleh setiap pegawai
Perlunya komunikasi untuk setiap manusia, sama halnya bagi suatu
organisasi. Dengan adanya komunikasi yang bagus, suatu perusahaan bisa berjalan
dengan lancar dan sukses. Sebaliknya, jika tidak adanya komunikasi dapat
menghambat tercapainya visi dan misi organisasi tersebut. Menurut William J.
Seller, “Komunikasi adalah proses di mana symbol verbal dan non-verbal
dikirimkan, diterima, dan diberi arti.” (David, 2011)
Normalnya setiap perusahaan atau dalam berorganisasi menginginkan
segala kegiatannya berjalan tanpa adanya suatu permasalahan yang berpotensi
menghambat aktivitas. Tetapi karyawan yang kurang atau yang tidak memiliki
suatu motivasi dalam melakukan seluruh pekerjaan yang diberikan. Menurut
winardi,
“Motivasi adalah pemberian gaya penggerak yang menciptakan
kegairahan seseorang bekerja agar efektif dan terintegrasi dengan segala daya
upaya untuk mencapai kepuasan.”(David, 2011). Dengan demikian karyawan harus
dimotivasi sehingga sasaran tersebut dapat dicapai. Motivasi mempersoalkan
mendorong gairah pegawai, agar mereka mau bekerja dengan memberikan seluruh
kemampuan dan kreativitas yang dimiliki oleh pegawai untuk mencapai target yang
telah ditentukan di awal penugasan.
Setiap karyawan memiliki kebutuhannya masing-masing baik dengan
bentuk fisik maupun non fisik agar dapat hidup secara layak. Kebutuhan yang
diperlukan dapat terpenuhi melalui imbalan dalam pekerjaannya. Jika kebutuhan
para pegawai dapat terpenuhi, maka kepuasan kerja karyawan akan meningkat.
Kinerja karyawan bergantung pada beberapa faktor salah satunya
komunikasi. Ada beberapa macam komunikasi, pada penelitian ini saya meneliti
komunikasi antara atasan dan bawahan, karena bank merupakan lembaga yang jelas
dan terstruktur, dan mempunyai suatu prosedur yang baku.
Berdasarkan uraian di atas, maka judul penelitian ini adalah Komunikasi Antara Atasan dan Bawahan
Terhadap Motivasi Kerja di Bank BRI Cimahi
2. Tinjauan
Pustaka
2.1. Komunikasi Organisasi
Menurut Goldhaber, komunikasi
organisasi sangat membantu untuk, menyelesaikan suatu tugas yang berkaitan
mengenai posisi dan tanggung jawab mulai dari layanan, dan produksi, lalu dapat
menyesuaikan dengan perubahan melewati kreativitas dan penyesuaian individu dan
dalam organisasi, Menyelesaikan tugas melalui kebijakan, urutan prosedur, atau
suatu peraturan yang telah ditetapkan oleh organisasi tersebut, dalam hal
menyelesaikan tugas juga dapat membantu dalam berkomunikasi melalui
pemeliharaan dalam kebijakan peraturan dalam operasi harian, pengembangan dalam
hubungan manusia diarahkan kepada orang-orang pada organisasi dalam kepuasan, sikap, dan moral mereka.
(Atmaja & Dewi, 2018)
Komunikasi
dalam organisasi berfokus dalam membangun hubungan dan berinteraksi dengan
kelompok organisasi internal dan eksternal atau publik tertarik pada organisasi
tersebut. Dalam (Atmaja & Dewi, 2018) dijelaskan mark koschman dalam video
YouTube animasinya, untuk melihat komunikasi organisasi dapat dilakukan melalui
dua cara, melalui pendekatan konvensional yang berfokus pada komunikasi dalam
organisasi. Pendekatan lainnya adalah komunikasi sebagai organisasi yang
artinya, organisasi adalah hasil dari komunikasi mereka yang ada di dalamnya.
Komunikasi bukan hanya tentang pengiriman pesan antara pengirim dan penerima.
Secara harfiah komunikasi
suatu hal yang membentuk dunia sosial manusia.
2.1.1.
Proses
Komunikasi
Menurut (Julian, 2017) dalam proses komunikasi
yang melibatkan unsur-unsur antar pegawai atau anggota dari suatu organisasi diantaranya sebagai
berikut:
1.
Sumber
Sumber dari adanya informasi yang memiliki
kebutuhan dan keinginan untuk memberikan gagasan pikiran kepada pihak lain.
2.
Pengubahan
informasi ke dalam sandi
Langkah ini mengubah berita dengan bentuk simbol
verbal dan non-verbal yang dapat mengubah atau memindahkan kata-kata percakapan
atau tulisan, gerakan, maupun angka.
3.
Pengiriman
informasi
Langkah ini menjelaskan pilihan komunikator
terhadap media. Komunikasi lisan dapat diberikan melalui macam-macam saluran,
salah satu contohnya telepon
atau video. Dalam hal ini tidak hanya dilakukan oleh kelompok tetapi dapat
dilakukan secara pribadi.
4.
Penerimaan
berita
Langkah ini penerima informasi dari pihak
penerima informasi melalui panca indra seperti pendengaran, penglihatan,
pengecap, penciuman, dan perabaan. Dalam pengiriman informasi belum lengkap
atau tidak terjadi jika salah satu pihak belum mendapatkan informasi.
5.
Umpan balik
Setelah diterima nya informasi lalu
diterjemahkan, penerima informasi tersebut dapat menyampaikan informasi balasan yang ditujukan kepada pengirim atau orang lain.
2.1.2.
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Komunikasi
Menurut (Julian, 2017) faktor yang
dapat mempengaruhi komunikasi yaitu dapat dari pihak komunikator atau sender dan faktor dari pihak receiver komunikan
1.
Faktor dari
pihak sender (komunikator)
a.
Keterampilan
Karena komunikator sebagai pengirim informasi
perlu menguasai cara-cara penyampaian pikiran baik secara tertulis maupun
lisan.
b.
Sikap
Setiap aspek dalam pekerjaan mengaitkan faktor aspek, dalam hal ini sikap komunikator
berpengaruh kepada komunikan. Apabila sikap komunikator negatif, akan
mengakibatkan informasi yang diberikan menjadi negatif. Dan sebaliknya
c.
Pengetahuan
Pengetahuan yang luas harus dimiliki
komunikator, sehingga komunikator dapat memberikan informasi kepada komunikan. Sehingga komunikan mudah
mengerti apa informasi yang disampaikan oleh komunikan.
d.
Media yang
di gunakan
Dalam media yang digunakan oleh komunikator
untuk membantu dalam penyampaian ide, informasi, dan gagasan.
2.
Faktor dari
pihak receiver (komunikan)
a.
Keterampilan
Dalam mendengarkan dan membaca pesan yang sangat
penting sehingga keterampilan komunikan sangat penting karena berhubungan untuk
menerjemahkan suatu informasi, agar dapat dimengerti dengan baik oleh
komunikator.
b.
Sikap
Sikap yang diberikan oleh komunikan terhadap
komunikator dapat mempengaruhi berjalannya alur informasi efektif atau tidak
nya dalam penyebaran informasi tersebut. Sehingga komunikan harus bersikap
positif.
c.
Pengetahuan
Jika memiliki pengetahuan yang luas akan
mempermudah dalam menerjemahkan informasi yang diterima dari komunikator.
d.
Media yang digunakan
Media komunikasi dapat menentukan pesan yang
diterima oleh komunikan, karena berpengaruh dalam menerima ide atau informasi.
2.1.3.
Tujuan dan
Manfaat Komunikasi
Menurut Purwanto dalam (Citra Gomelan
Yuli, 2019). Dalam kehidupan manusia banyak berkomunikasi dengan cara yang
berbeda tergantung dengan kondisi yang sedang mereka alami seperti waktu ruang,
dan sumber daya yang mereka miliki. Sehingga adanya tujuan dan manfaat dari
komunikasi itu sendiri:
1.
Kemampuan
dalam manajer dan hubungan
sosial dapat meningkat.
2.
Memberikan
dan menerima informasi
3.
Menjawab
pertanyaan.
4.
Melalui
pengorganisasian, dan pengarahan dapat mengubah perilaku dalam hal pola pikir
atau tindakan.
Dari adanya komunikasi tentunya terdapat tujuan yang
ingin dicapai antara pribadi satu sama lain, yaitu :
1.
Menyampaikan
informasi
Dalam berkomunikasi, sudah dipastikan bahwa
seseorang tersebut memiliki tujuan dan harapan. Menyampaikan informasi kepada
orang lain, agar orang yang diberikan informasi tersebut dapat mengetahui sesuatu, hal tersebut salah
satu tujuan dan harapan dari menyampaikan informasi.
2.
Berbagi
pengalaman
Dalam hal ini juga memiliki tujuan yaitu untuk
saling berbagai informasi mengenai pengalaman kepada orang lain sehingga orang
yang mendapatkan nya mendapatkan pelajaran dari hal tersebut.
3.
Menumbuhkan
simpati
Menumbuhkan simpati merupakan sikap positif yang
diperlihatkan oleh hati seseorang untuk merasakan bagaimana penderitaan,
musibah, atau kesedihan yang sedang dirasakan orang lain.
4.
Melakukan
kerja sama
Melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan
bersama yang pastinya bermanfaat atau menguntungkan bagi kedua belah pihak.
5.
Menceritakan
kekecewaan atau kekesalan
Hal ini juga dapat digunakan seseorang untuk
menceritakan rasa kecewa kepada orang lain.
6.
Menumbuhkan
motivasi
Menumbuhkan motivasi kepada orang lain untuk
melakukan sesuatu yang baik untuk lingkungan sekitar atau pun diri seseorang
tersebut.
2.1.4.
Dimensi
Komunikasi
Dimensi dalam komunikasi terdiri dari
dua bentuk yaitu, komunikasi vertikal dan horizontal, pada pembahasan kali ini
hanya membahas mengenai komunikasi vertikal
karena mengenai komunikasi antara atasan dan bawahan, dalam komunikasi vertikal
terbagi lagi menjadi dua jenis, sebagai berikut:
1.
Komunikasi
Kebawah
Arus pesan dari atasan atau pimpinan dalam
organisasi tersebut kepada para karyawannya. Dalam komunikasi ini untuk
menyampaikan beberapa tujuan, yaitu dengan membentuk suatu pendapat, mengurangi
dalam kecurigaan yang sering timbul akibat salah informasi, mencegah kesalahpahaman antara pimpinan dan
bawahan, dan memberikan lingkungan yang baik untuk para karyawan agar dapat menyesuaikan diri dengan baik.
2.
Komunikasi
Keatas
Pesan atau informasi yang disampaikan dari
tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang tinggi. Menurut (Studi et al., 2022)
jenis komunikasi ini memiliki beberapa fungsi tertentu yaitu:
a.
Dari adanya
komunikasi vertikal ini, supervisor dapat mengetahui waktu yang tepat untuk
memberikan informasi kepada bawahannya.
b.
Arus
komunikasi vertikal ini memberikan informasi yang penting untuk membuat suatu keputusan dalam organisasi.
c.
Komunikasi
vertikal ini juga dapat memperkuat loyalitas karyawan terhadap organisasi karena memberikan kesempatan dalam mengajukan ide-ide atau saran-saran untuk mencapai
tujuan pada organisasi.
d.
Dalam
komunikasi ini memberikan supervisor dapat melihat apakah bawahan mengerti apa
yang dimaksud atau diperintahkan.
2.2. Motivasi Kerja
Motivasi kerja merupakan suatu dorongan atau keinginan
dari dalam diri internal seseorang, yang dapat memberikan daya, dan mengarahkan
sikap pada saat melaksanakan tugas dalam bidang pekerjaannya. Dorongan untuk
melakukan sesuatu lebih baik dari pada lainnya dalam melakukan suatu kegiatan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut Mathis dalam (Lindawati, 2021) keinginan dalam
diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut bertindak disebut motivasi.
Biasanya orang bertindak karena suatu alasan untuk mencapai tujuan. Memahami
motivasi sangatlah penting karena kinerja, reaksi terhadap kompensasi dan
persoalan sumber daya manusia yang lain dipengaruhi dan mempengaruhi motivasi.
Terdapat 2 teknik dalam memotivasi untuk pegawai,
salah satunya yaitu Teknik komunikasi persuasif yang merupakan salah satu
Teknik memotivasi kerja pegawai yang dilakukan dengan cara mempengaruhi
pegawai.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi
dorongan yang dari keinginan pada seseorang individu yang merangsang untuk
mendorong para pekerja dalam melakukan pekerjaanya sehingga mencapai tujuan
bersama atau tujuan organisasi.
2.2.1.
Jenis-jenis
Motivasi Kerja
Menurut (Studi et al., 2022) terdapat dua jenis
dalam motivasi kerja, yaitu:
1.
Motivasi
positif
Motivasi positif ini dengan cara manajer atau atasan memotivasi bawahan
dengan memberikan sebuah timbal balik berupa hadiah kepada karyawan yang
memiliki prestasi yang baik dalam menyelesaikan pekerjaannya. Adanya motivasi positif ini dapat memberikan semangat
bagi pegawai dalam meningkatkan kinerjanya. Pada umumnya setiap individu senang
menerima hal-hal yang positif.
2.
Motivasi
negative
Motivasi negative ini pimpinan memberikan
motivasi kepada pegawainya dengan memberikan punishment kepada mereka yang melanggar peraturan ataupun pegawai
yang mengerjakan pekerjaannya yang kurang baik. Dengan adanya motivasi negative
ini semangat kerja bawahan dalam jangka waktu pendek akan meningkat karena mereka memiliki
ketakutan, tetapi dalam jangka waktu
panjang dapat mengakibatkan hal-hal yang
kurang baik seperti hanya menimbulkan rasa dendam antara pimpinan dan bawahan.
2.2.2.
Faktor-faktor
Motivasi
Menurut sutrisno dalam (Citra Gomelan
Yuli, 2019), faktor tersebut dapat dibedakan atas faktor intern dan ekstern
dari setiap karyawan yang ada, yaitu:
1.
Faktor
Intern
Faktor ini dapat mempengaruhi pemberian motivasi
pada seseorang yaitu keinginan dapat hidup, keinginan memiliki, keinginan
memperoleh penghargaan, keinginan memperoleh pengakuan, keinginan dalam
kekuasaan.
2.
Faktor
Ekstern
Faktor eksternal yaitu kondisi lingkungan kerja, kompensasi yang sesuai,
supervisi yang baik, adanya jaminan dalam bekerja, status, tanggung jawab,
peraturan yang memadai.
2.2.3.
Indikator
Motivasi
Menurut Ardial, dalam (Citra Gomelan
Yuli, 2019) Untuk mengukur tolak ukur motivasi karyawan dapat diukur melalui
indikator berikut, yaitu:
1.
Gairah
kerja
Aktivitas kerja yang diperlihatkan oleh karyawan
dengan penuh semangat, disebut gairah kerja. Hal ini memperlihatkan kesungguhan
karyawan dalam melakukan tugasnya yang diberikan atasan kepadanya.
2.
Loyalitas
karyawan terhadap tugasnya
Seorang pegawai dengan penuh kesadaran
memberikan hasil yang terbaik kepada perusahaan nya dengan patuh serta taat
kepada pimpinan dan
melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, hal tersebut dapat disebut loyalitas
kerja.
3.
Disiplin
kerja
Seseorang yang taat kepada peraturan yang
ditetapkan oleh perusahaan dan norma-norma sosial lainnya, tanpa adanya satupun
pelanggaran yang dibuatnya.
4.
Produktivitas kerja
Suatu hal yang dilakukan pegawai dapat
meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja para pegawai.
3.
Metode yang Digunakan
Dalam tulisan ini menggunakan metode studi
pustaka dengan mengumpulkan data
pustaka melalui jurnal, buku, dan pemikiran tokoh.
4.
Diskusi
Dari
hasil pengamatan yang dilakukan oleh (Arnawa & Heryanda, 2021) bahwa secara
signifikan komunikasi atasan kepada bawahan memberikan pengaruh yang positif
terhadap motivasi karyawan pada bank BRI Cimahi. Hasil penelitian ini sesuai
dengan penelitian sebelumnya yang disampaikan oleh Robbins ia menyatakan sangat
diperlukannya komunikasi dalam dunia kerja dengan adanya komunikasi dan
menjalin komunikasi yang positif dapat meningkatkan motivasi kerja para pegawai, komunikasi ini mampu
dijadikan alat untuk menjelaskan secara rinci pegawai yang harus dilakukan oleh
pegawai, sehingga dapat meminimalisir kesalahan-kesalahan yang akan terjadi.
Instruksi
tugas yang diberikan oleh atasan, secara jelas kepada para bawahannya
Berdasarkan hasil penelitian kualitatif yang dilakukan (Madhiah, 2012) bahwa
instruksi yang digunakan dalam bentuk lisan, untuk perintah atau himbauan yang
disampaikan langsung kepada bawahan. Hal ini terlihat saat atasan memberikan instruksi kepada para bawahan.
Berdasarkan
Analisa penulis, instruksi yang dilakukan oleh atasan berjalan sesuai dengan
apa yang diminta atau tujuan organisasi tersebut. Pesan yang disampaikan dapat bervariasi. Sedangkan dalam bentuk himbauan, adanya pernyataan dari atasan
yang menyampaikan segala sesuatu yang sebelumnya sudah baik atau positif, untuk
dilanjutkan dan tetap menjaga dalam pengerjaannya agar dapat meningkat lebih
baik lagi. Hal ini tertulis pada pernyataan
(Linsufiie, 2010) dalam (Madhiah, 2012) yang mengatakan bahwa seorang pemimpin
atau atasan memiliki kapabilitas atau keahlian dimana ia mampu menggerakkan
bawahan dengan bentuk perintah, otoritas, himbauan, dan motivasi.
Instruksi
tugas yang diberikan atasan, sebaiknya tidak sebatas memberikan informasi dalam
bentuk garis besarnya, sebaiknya informasi yang disampaikan itu secara jelas
dan spesifik agar pegawai dapat mengerti apa-apa saja yang harus dikerjakan.
Apabila informasi yang diberikan oleh pimpinan hanya sebagian informasi saja,
maka dikhawatirkan pegawai akan menyisakan pertanyaan. Ditakutkan pegawai malu
untuk bertanya karena takut dianggap tidak cerdas oleh pimpinannya. Sehingga
akan membuat rasa percaya diri pegawai runtuh yang akhirnya atasan berpikir
tidak mampu untuk mengerjakan pekerjaannya. Hal tersebut didukung oleh (Denny, 2010) pada (Madhiah,
2012) bahwa komunikasi yang buruk dapat
memberikan hasil yang negatif, begitupun sebaliknya jika komunikasi yang
efektif pasti memberikan hasil yang positif. Apabila adanya gangguan dalam
pemberian pesan dari atasan kepada bawahan maka pimpinan perlu memperhatikan
cara penyampaian pesan yang efektif, sebaiknya pimpinan dapat memberikan
informasi yang dibutuhkan oleh pegawai. Jika pimpinan tidak memiliki informasi
yang diminta oleh pegawai maka atasan perlunya berkata jujur jika tidak
memilikinya dan akan mencari informasi tersebut.
Cukup
mudah dalam hal instruksi penugasan dari seorang atasan, jika pegawai sadar akan apa yang diharapkan, kenapa hal
tersebut dilakukan dan kapan diperlukan. Apabila pegawai tidak yakin mengenai kedua aspek tersebut, maka dapat mengajukan
pertanyaan kepada atasan. Namun, apabila dalam pekerjaan yang sedang dilakukan
banyak kesulitan yang dirasakan pada para pegawai dalam mendapatkan informasi
dari atasan. Hal ini dikarenakan bawahan untuk
menyembunyikan perasaan dan ide nya.
Informasi
mengenai hasil kerja pegawai yang telah disampaikan atasan, baik dalam bentuk
kritikan ataupun pujian. Hal tersebut adalah bentuk koreksi dari atasan, baik
dalam ketepatan kata-kara yang digunakan maupun susunan kalimat terhadap
surat-surat yang masuk.
Menurut
analisis dari penelitian
tersebut, berjalanya kegiatan komunikasi
melalui surat sudah sesuai. Atasan mampu memperbaiki hal yang sifatnya kecil tetapi dampak yang akan datang
besar. Dari hasil evaluasi yang telah dilakukan dapat diketahui keberhasilan
atau kegagalan dalam pencapaian tujuan.
Respon
yang baik juga sangat penting dan perlu diperhatikan, untuk menambah motivasi
atau semangat kerja pegawai. Menurut Joewono dalam (Madhiah, 2012) mengatakan
bahwa responsif terhadap suatu masalah yang penting merupakan hal yang positif,
tetapi jika terlalu cepat dalam bereaksi tanpa adanya pemikiran atau
perencanaan yang baik akan memberikan kesan yang negatif karena kurangnya kemampuan dalam menguasainya. Dari hal
tersebut dapat diambil bahwa seorang atasan dapat menjadi pendengar yang aktif
dan mampu menganalisis setiap informasi yang didapat.
Pola
komunikasi atasan dalam membangun motivasi kerja pegawai bank, dalam penilaian
penulis sudah sangat baik
karena komunikasi atasan mampu membangun rasa semangat kerja pegawai. hal ini
terlihat dari hasil kinerja yang dihasilkan oleh pegawai serta apresiasi yang
diberikan oleh atasan kepada bawahannya. Dengan adanya apresiasi yang diberikan
oleh atasan direspon secara positif oleh pegawai.
Pola
komunikasi yang dilakukan atasan dapat membuat interaksi yang baik di lingkungan kantor bank tersebut. Hal
ini terlihat dari pelaksanaan kerja yang baik, saling membantu, dan saling
memberikan saran demi kemajuan bersama.
5.
Kesimpulan
Penulis
dapat menyimpulkan bahwa pola komunikasi yang dilakukan atasan kepada bawahan
dalam kantor bank BRI Cimahi, membangun motivasi kerja bawahan adalah pola
komunikasi yang digunakan secara vertikal. Pola komunikasi vertikal terlihat
dari adanya penyampaian tugas dilakukan oleh atasan kepada bawahannya yang berupa perintah. Bentuk
komunikasi vertikal ini dapat membangun motivasi kerja pegawai, hal ini
terlihat dari semangat kerja pegawai, terciptanya interaksi yang harmonis pada
kantor bank BRI Cimahi.
6. Daftar
Pustaka
Arnawa, I. M. P., & Heryanda, K. K. (2021). Pengaruh
Komunikasi Dan Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan Bank. Jurnal Manajemen Dan Bisnis, 3(1),
56–64. https://doi.org/10.23887/pjmb.v3i1.29295
Atmaja, S., & Dewi, R. (2018). Komunikasi Organisasi
(Suatu Tinjauan Teoritis Dan Praktis). Inter
Komunika : Jurnal Komunikasi, 3(2),
192. https://doi.org/10.33376/ik.v3i2.234
Citra Gomelan Yuli. (2019). Pengaruh Motivasi Dan Komunikasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT.
Bank Sumut Kantor Cabang Koordinator Medan.
David. (2011). Universitas Kristen Petra Surabaya. Dimensi Interior, 8(1), 44–51.
publication.petra.ac.id/index.php/sastra-tionghoa/article/view/121%0D
Julian. (2017). PENGARUH
KOMUNIKASI DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT . CHAROEN
POKPHAND INDONESIA DIVISI FOOD SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi ( S . M .) Program Studi Manajemen
Oleh : MUHAMMAD JU.
Lindawati. (2021). Pengaruh
Komunikasi Organisasi Terhadap Motivasi Kerja Karyawan Pada Pt. Pos Indonesia
(Persero) Mataram. https://repository.ummat.ac.id/2241/
Madhiah, U. I. N. S. S. K. R. (2012). Pola komunikasi pemimpin dalam membangun
motivasi kerja pegawai kantor kelurahan wonorejo kota pekanbaru skripsi.
Studi, P., Syariah, P., & Rohmah, S. Z. (2022). BANK BRI KCP UNIT KALISAT FAKULTAS EKONOMI
DAN BISNIS ISLAM JANUARI 2022.
Lampiran:
